topbella

Senin, 26 Desember 2011

Cerita Pendek

Nenek Tua dan Pemuda Keterbatasan Mental
Disebuah gubuk kecil yang berada dikawasan pinggir Kota Jakarta hiduplah seorang nenek paruh baya. Usia nenek itu kini mencapai 75 tahun. Yap, dapat dipastikan ia lahir ketika Bangsa Indonesia masih dalam penjajahan Negara Jepang. Namun entahlah, apakah si nenek masih mengingat semua tentang kisah pahit disaat penjajahan atau tidak.
Tigapuluh tiga tahun yang lalu sang nenek melahirkan seorang putra bungsunya. Heru Susanto nama lengkapnya. Lelaki yang kini telah menginjak usia dewasa dan mempunyai badan sehat dan bugar ini tak seberuntung kita semua. Ia mengalami keterbatasan mental, memang tidak autis, namun tidak juga normal seperti orang-orang kebanyakan.
Awalnya, Heru lahir dengan keadaan normal dan tidak mengalami kecacatan fisik maupun saraf sekalipun. Namun, masalah dimulai ketika ia tengah berusia 2 tahun. Pada saat itu ia mengalami sakit panas, untuk mencegah gejala yang berkelanjutan, nenek membawanya ke sebuah Puskesmas. Entah mengapa, Puskesmas itu malah memberi surat rujukan agar sang anak dibawa ke Rumah Sakit yang lebih besar.
Nenek menuruti saja perintah dari petugas Puskesmas tersebut, jika memang ini keputusan yang terbaik untuk mengetahui penyakit apa yang diderita sang anak. Sesampainya ia di sebuah Rumah Sakit besar di wilayah Jakarta, nenek langsung mendaftar dan bersiap menemui dokter untuk memeriksakan anaknya.
“penyakitnya cukup parah, Bu. Anak ini harus dirawat”.
Begitu kata dokter ketika si nenek menyanyakan bagaimana keadaan putranya. Nenek langsung saja mengiyakan saran dokter, jika memang itu yang akan membuat anaknya sembuh. Setelah kurang lebih seminggu putra sang nenek dirawat, akhirnya ia diperbolehkan untuk pulang.
Nenek sangat lega mendengarnya, ia jelas langsung beranggapan bahwa putranya sudah sembuh jika dokter memberi keputusan seperti itu. Ternyata, semuanya tak semulus yang nenek harapkan. Setelah Heru dibawa pulang kembali ke rumah, ia mengalami keanehan. Heru pada saat itu hanya dapat tertidur ditempat tidurnya, tidak mau makan, bicara, atau mencoba jalan sekalipun. Ia tak seceria dulu sebelum dirawat. Nenek sangat cemas melihat anaknya seperti ini, apa yang terjadi?
Nenek kembali membawa anaknya ke Rumah Sakit tempat anaknya dirawat itu. Namun ada kejanggalan disana, ketika nenek sampai, pihak rumah sakit seperti tidak mau menangani Heru, dan tidak menanggapi keluhan sang nenek. Ada apa lagi ini? Akhirnya, nenek membawa putranya ke rumah sakit lain. Kabar mengejutkan terdengar dari sang dokter.
“saya tidak mengerti apa yang terjadi dengan anak ini, sepertinya ada pihak yang tidak sengaja salah dalam pemakaian jarum suntik dalam mengobati atau gimana, tapi yang jelas anak Ibu telah dijadikan sebagai mal praktek, sel sarafnya putus sehingga anak ini tidak akan bisa mengalami pertumbuhan seperti anak-anak lain, jika memang bisa, hanya sedikit kemungkinan, terkecuali dalam hal fisik”. Begitu kata dokter.
Nenek benar-benar terkejut, kecewa dan panik bukan main. Ia seakan masih tak percaya jika hal buruk ini menimpa anak laki satu-satunya itu. Akhirnya ia meninggalkan dokter dan menuju rumah sakit tempat anaknya dirawat yang lalu. Sesampainya nenek disana, pihak rumah sakit benar-benar tidak menanggapi nenek. Berkali-kali nenek datang, namun perlakuan mereka tak ada perubahan.
Ia ingin sekali menuntut pihak rumah sakit yang menjadikan anaknya sebagai mal praktek, namun nenek sadar bahwa itu bukan perkara mudah, ia harus banyak mengeluarkan dana dan pengacara besar. Apalagi ia sekarang berhadapan dengan sebuah rumah sakit besar, yang pasti jauh lebih berat untuk dikalahkan.
Sekarang ia pasrah dengan keadaan anaknya itu, ia hanya bisa membawa anaknya ke pusat-pusat teraphi untuk sedikit membantu anaknya dalam pertumbuhan. Memang tak banyak berbuah manis, namun setidaknya itu bisa sedikit membantu. Kini, anaknya sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa, namun kemampuannya tak lebih dari seorang balita berusia 2 tahun.
Puluhan tahun nenek tingggal bersama lelaki 33tahun ini, karena suaminya sudah meninggalkannya sejak lama. Bayangkan saja, untuk mengurusi dirinya sendiripun nenek sudah hampir kualahan, ditambah harus mengurusi pemuda keterbatasan mental itu. Namun ia tetap berusaha sabar menjalani hari-harinya dengan kehidupan yang seadanya, karena keuangan sang nenek lama kelamaan habis, dan sudah tidak sanggup bekerja lagi.
Ia berharap sebuah keajaiban yang datang padanya, ia selalu berdo’a. Sampai akhirnya, ada sebuah keluarga yang mau merawat nenek dan anaknya itu. Ia sangat bersyukur pada Tuhan. Kini, ia hidup dengan keadaan yang sangat berkecukupan.




Sebuah kisah nyata,
Creative by:
SANTY WULANDARI, 14 tahun.

Pengetahuan Sastra

Resensi Buku
Mungkin kalian sering melihat resensi buku dari seorang pembaca di koran-koran. Namun, tahukah kalian apa maksud dari resensi buku? Resensi adalah penilaian, dan meresensi adalah melakukan suatu penilaian terhadap suatu buku yang telah kita baca dan pahami. Dalam meresensi suatu buku, kita tak hanya menilai dalam sisi baiknya saja, namun harus diperhatikan dalam sisi buruknya. Berikut hal yang harus diperhatikan dalam meresensi:
·        Identitas buku yang diresensi meliputi judul, penulis, penerbit, tahun terbit, dan jumlah halaman.
·        Paparkan ringkasan isi buku.
·        Berikan suatu penilaian terhadap buku yang kita resensikan dengan menyebutkan kelebihan maupun kekurangan.
·        Bila kalian meresensi buku novel atau fiksi, maka kalian harus memaparkan unsur intrinsiknya.
·        Berikan penilaian yang adil, dan tidak melebih-lebihkan.
·        Berikan himbauan kepada orang-orang untuk membaca ataupun membeli buku yang kita resensikan.

 

Contoh Resensi Buku
Judul Buku             : IPS
Penulis                     : Sutarto, dkk (jika terdapat lebih dari satu penulis)
Penerbit                  : Pusat Perbukuan
Tahun terbit          : Juli, 2008
Ketebalan               : 334 Halaman, 17,6 x 25 cm
(paragraph pertama mencakup isi)
Banyak pemuda pemudi Indonesia yang kiranya tidak mengetahui bagaimana sejarah negaranya sendiri, perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat, maupun pada wilayah atau bahkan keadaan sosial. Untuk menghadapi masalah tersebut, Pusat Perbukuan menerbitkan buku IPS agar para siswa dapat menemukan, memahami, dan menjelaskan jati diri bangsa masa kini, dan masa depan ditengah-tengah perubahan dunia. Selain itu, para siswa yang membaca buku ini diharapkan dapat menjadi penerus bangsa yang cerdas dan berkualitas. Mula-mula, didalam buku ini kita akan disuguhi dengan tata cara penggunaan, materi pokok, penjelasan detail, relaksasi, dan ada pula yang dinamakan dengan studi khusus.

(paragraph kedua mencakup kelebihan buku)
Buku IPS menyajikan soal-soal yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi, agar dapat melatih kemampuan berfikir siswa. Namun dengan tebalnya buku yang mengulas lengkap setiap materi dan penggunaan gaya bahasa yang mudah dipahami, diyakini tidak akan memberatkan siswa dalam mengerjakan, apalagi dengan adanya index halaman sebagai kata kunci yang lebih memudahkan siswa.

(paragraph ketiga mencakup kekurangan buku)
Hanya saja, ketidakjelasan gambar dan kurang bagusnya kertas yang digunakan mungkin dapat membuat siswa menjadi segan untuk memahami dan mempelajari isi buku tersebut. Walau adapula gambar-gambar yang memang masih dapat dipahami. Kurangnya penggunaan tinta berwarna pada setiap tulisan juga menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan.

(paragraph terakhir mencakup himbauan membeli)
Meskipun begitu, buku ini dapat mendorong siswa berfikir kritis analistis dalam memanfaatkan pengetahuan tentang masa-masa kini dan masa depan, memahami bahwa ilmu pengetahuan sosial merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, dan dapat mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk memahami proses perubahan dalam keberlanjutan masyarakat. Mungkin, itu yang dapat diteliti dan dipaparkan dalam buku IPS, sudah termasuk buku yang cukup berkualitas, bukan?

Cerita Pendek


Garis lurus dan satu Lingkaran
Felenna Alzahra Dyne, itu nama lengkapnya. Cewek cantik plus tajir yang lahir di Negara tetangga alias Singapore itu kini duduk dibangku Sekolah Menengah Atas kelas dua belas yang ada di ibukota, salah satu sekolah favorite juga sih.
Elenna salah satu murid kesayangan kepsek di sekolah, dia juga termasuk anak famous yang banyak ditaksir kakak kelas. Ya maklum sih, selain cantik, tajir, dan punya tubuh oke banget, Elenna juga mempunyai segudang prestasi. Dia langganan jadi juara kelas dan selalu menang ketika mengikuti olimpiade matematika atau bahasa inggris.  Tapi walaupun begitu, tak ada satu cowok pun yang sampai sekarang berhasil mendapatkan hatinya, karena menurutnya, tidak ada cowok yang mampu membuatnya terpesona, ia selalu menganggap dirinyalah yang paling sempurna.
Dilain sisi, ada seorang cowok bernama Ferdian Renaldo, ia sering dipanggil Aldo. Aldo nggak beda jauh dengan Elenna, sama pintar, sama kaya, dan sama-sama mempunyai sikap sombong dan merasa dirinya paling ‘wow’ dimata semua orang. Lalu bagaimana jika mereka berdua dipertemukan? Yap, memang itulah konflik awalnya.
Aldo pindah ke sekolah Elenna dengan alasan sekolah-sekolah didaerah Bali tidak sebagus di Jakarta. Umm mengapa baru beranggapan sekarang ya? Padahal, Aldo sudah lama tinggal di Bali dan mengenyam pendidikan disana. 
Sampai suatu ketika Elenna dan Aldo terpaksa harus bekerja sama demi mengurus pensi yang ditugaskan oleh kepala sekolah. Namun, mereka sangat sulit bekerja sama karna keduanya segan untuk meminta bantuan satu sama lain. Berulang mereka melakukan debat dan sering berselisih paham. Sampai akhirnya Elenna tau sesuatu tentang Aldo!
          ALDO SI ANAK BARU YANG KATANYA KEPINTERAN INI TERNYATANGGAK BISA MEMBUAT GARIS LURUS! kok bisa sih? boleh percaya boleh tidak, namun inilah kenyatannya. Elenna mengetahui itu tanpa seengaja, ketika Aldo diminta membuat mading untuk kepentingan pensi di ruang OSIS, ia malah kebingungan dan keringetan cuma karna nggak bisa membuat satu garis lurus, padahal sudah ada mistar di meja kerjanya. Namun entahlah.. si anak baru ini tetap saja tidak bisa membuat.
Ketika tahu, Elenna meledek Aldo habis-habisan. Tapi Aldo diam saja karna ia tak bisa memungkiri, bahwa sampai sekarang ia tetap tak bisa membuat garis lurus. Padahal sudah berulang kali ia memanangkan olimpiade-olimpiade matematika.
Setelah puas, Elenna akhirnya bersedia menghentikan ledekannya dan mencoba lebih serius untuk mengurusi masalah pensi, dan ia meminta Aldo untuk membuatkannya satu buah lingkaran. Karna Aldo menganggap ini hal biasa, ia tak mau membuatkan lingkaran untuk Elenna, Aldo malah menyodorkan sebuah koin dan penggaris berbentuk lingkaran yang besar. Aldo menyuruh Elenna untuk membuat lingkaran sendiri.
Tetapi Elenna malah diam dan terlihat tak tahu ingin melakukan apa. Aldo ikut bingung dan bertanya mengapa Elenna seperti ini? Akhirnya Aldo memaksa Elenna untuk membuat satu lingkaran menggunakan koin hanya untuk latihan terlebih dahulu. Namun tangan Elenna malah gemetar dan tak bisa melakukan itu. Akhirnya ia mengakui, bahwa dirinya juga mempunyai kelemahan yang dapat membuat orang lain perpekik, bahwa ia TIDAK DAPAT MEMBUAT LIGKARAN Aldo cekikikan mendengarnya, dan seakan tak mau kalah, ia juga meledeki Elenna habis-habisan.
Dari dua kejadian itu mereka tersadar, bahwa tak ada manusia yang sempurna. Sepandai-pandainya, secantik-cantiknya, setampan-tampannya, sekaya-kayanya manusia pasti mempunyai kelemahan. Elenna dan Aldo akhirnya tertawa terbahak-bahak jika mengingat kejadian ini. Lalu mereka berdua berjanji, untuk berhenti menjadi orang yang sombong dan selalu menganggap dirinya seseorang yang paling sempurna.



CREATIVE BY:
SANTY WULANDARI, 14 tahun.

Foto Saya
Santy Wulandari
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
179Jhs! :) follow me on twitter @shantywul
Lihat profil lengkapku